Hampir semua orang islam pasti tau bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang paling mulia diantara bulan2 yang ada dalam setahun. Di bulan ini, umat islam berlomba lomba untuk melazimkan istighfar, memperbanyak amal ibadah, meningkatkan kualitas diri dengan iman demi meraih derajat taqwa. Bagiku, ramadhan kali ini adalah kali yang kedua dimana aku harus menjalaninya jauh dari anak istri, keluarga, dan temen2 dekat. Ya kalau dipikir berat emang berat ketika harus memilih hidup jauh dari orang orang yang dicintai. Tapi demi cita2 kedepan untuk kehidupanku dan my little but happy famly, kami harus dengan penuh optimisme menjalaninya. Jalani saja.
Berpuasa di negri yang mana muslim adalah kaum minoritas jelas sangat berbeda dengan berpuasa di tanah air. Suara azan tiap 5 kali sehari, kumandang bacaan quran, ceramah2 keagamaaan, dan lain sejenisnya praktis tidak bisa ku dengar dan jumpai disini. Inilah mungkin salah satu yang membuat puasa di sini terasa berbeda. Untunglah ada temen2 senasib seperjuangan. Untunglah ada orang2 yang bisa menjadi pengganti keluarga sementara. Untunglah ada yang namanya internet. Dengannya aku bisa sesekali menengok acara2 televisi indonesia, siraman2 rohani, program2 keagamaan dlsb. Walaupun begitu, tetap saja beda rasanya (ya jelang dos la wong tempatnya saja beda ;) ) Ya nikmati sajalah apa yang ada sekarang sambil melihat apa yang bisa diraih kedepanya.
Apa yang ingin kuraih dengan berpuasa kali ini? adakah niatan khusus? target khusus yang membuatnya berbeda dengan tahun2 sebelumnya? hmmm. Yah jawaban umum dan diplomatisnya, supaya bisa menjadi pribadi yang bertaqwa. ( amin ) Apakah cukup dengan jawaban ini? tentu saja tidak tho. Ketika menulis blog ini, tiba2 aku inget masa2 ketika masih di desa, ketika diri masih terasa dalam motivasi yang tinggi dan mengkaji (berarti sekarang rendah ya :)) ), ketika masih duduk di bangku sekolah. Jika dievaluasi, memang semangatku untuk belajar agama saat ini jauh berbeda dengan saat itu. Ironisnya bukan perbedaan yang membaik, namun justru sebaliknya. Astaghfirulloh. Ya mungkin karena hal inilah, di dalam bulan ramadhan kali ini, aku ingin bener bener memperbaiki SDM ini, yg kl meminjam istilah dan gayanya tukul ‘SDM rendah’. huuhhh.
Mengapa hal ini begitu penting? tentu saja hampir semua orang bisa menemukan jawaban yang relatif benar dalam menjawab pertnyaan ini. Nah, sekarang yang jadi masalah adalah si Mr. How-nya. Bagaimana kualitas SDM bisa meningkat. Sederet teori, segudang kata mutiara, seabrek program2 self capacity building sudah menyediakan trik2 yang dapat membawa kita ke arah peningkatan kualitas diri. hmmm, tapi… lagi2 ‘it’s always easier said than done’ selalu terbentur disini. Tantangan dan godaannya terlalu berat untuk diterjang. apalagi ketika hanya sedikit waktu energi yang disisihkan untuk perbaikan diri. apalagi kalau hanya menjadi bagian yg tersisih saja. Tapi kan bukan berarti tidak sama sekali to? yang penting tetep harus ada prorgress. Jangan berhenti, maju terus. Dengan berhenti saja tidak membuat masalah jadi berlalu begitu saja, tp justru sebaliknya, dia akan terus menumpuk dan akan menjadi gunung es yg akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Just do whatever u can do for better future. ok ?
Dari seseorang yng selalu ingin mencari…
